Peristiwa ini terjadi pada tahun 2006. Pada saat saya berkunjung ke Posyandu Bukit Murau di wilayah kerja saya. Niat awalnya melacak adanya gizi buruk diposyandu tersebut yang dilaporkan oleh bidan desa. Tapi ternyata anak tersebut bukanlah kasus gizi buruk murni. Dia menderita kelainan jantung. Umur 3 tahun,sangat kurus dan pada saat saya memeriksanya dia menangis dan seluruh tubuhnya menghitam dan dia sama sekali tidak bergerak dalam hitungan detik. Si ibu mengatakan hal itu wajar terjadi pada anaknya,sejak dia berumur satu tahun sampai umur nya sekarang anak itu tidak dapat berjalan. Saya mendiagnosa anak tersebut dengan kelainan jantung bawaan. Setelah saya komunikasi dengan bidan desa ternyata keluarga ini berasal dari keluarga yang tidak mampu. Saya segera merujuk pasien ini ke dokter spesialis anak di Kabupaten Lubuk Linggau propinsi Sumatera Selatan,karena di kabupaten saya sampai tahun 2006 belum ada Rumah Sakit Umum Daerah. Hasil rujukan mengatakan bahwa pengobatan satu-satunya adalah pasien Harus di operasi dan dokter mengajurkan ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di jakarta.
Keluarga pasien terdiam lalu menangis di ruang kerja saya, setelah saya baca jawaban rujukan itu. Kami tidak mungkin ke sana bu dokter, ujar sang bapak . Kami tidak punya uang.Saya berpikir apa yang harus saya lakukuan. Saya bilang “kita harus bawa anak bapak ke jakarta,anak bapak harus sembuh, bagaimanapun caranya,apakah bapak setuju ?” Dia menjawab, “kami pasrah bu dokter“.Dan kerja pun di mulai
1.Mengurus surat rujukan
Negosiasi saya yang pertama adalah ke Rumah Sakit Lubuk Linggau berjarak 250km. Menjumpai dokter spesialis anak. Karena menurut prosedur dia lah seharusnya yang merujuk ke Jakarta bukan saya. Tapi karena kita beda propinsi,jadi dia tidak punya wewenang untuk merujuk pasien tersebut. Prosesnya memakan waktu,tapi dokter Zainal spesialis anak itu memang sangat membantu saya. Knapa harus saya yang pergi ? dokter zainal bertanya kepada saya . Melihat negosiasi yang agak butuh penjelasan ini,saya pikir apa bisa keluarga tidak mampu itu melakukannya sendiri. Meminta rujukan dan segala urusan admin lainnya yang meraka sama sekali tidak paham.
Ps;Jangan biarkan mereka mengurus segala administrasi yang berbelit,kasihan mereka,mereka memang tidak berpendidikan. Mereka tidak mengerti tentang prosedur. Mohon maklumi itu..
2. PT askes
Saya mengatakan akan merujuk pasien ke RSJHK. Awalnya mereka meyakinkan saya bahwa itu bukan wewenang saya sebagai kepala puskesmas,tapi saya juga meyakinkan dia siapa lagi yang akan berbuat kalau bukan saya selaku kepala puskesmas. Apa mungkin RS lain,karena saat ini tidak ada rumah sakit di kabupaten ini. Pasien ini tidak punya biaya dan tidak akan mau berangkat karena dia yakin prosedurnya sangat rumit. Dengan sedikit diplomatis saya mencoba meyakinkan “mari bu,kita bantu sama-sama, bagaimana agar pasien ini mendapatkan pengobatan“ Segala prosedur yang dimintakan kita laksanakan, fotocopy ini dan itu, buat pasfoto, dan lain-lain, bersama mbak Ningrum,pengelola PKPS-BBM puskesmas kami bereskan semua syarat admistrasi yang diminta. Mereka akhirnya menyetujui pasien di rujuk. Saya dan mbak ningrum lega….Lalu biaya perjalanan bagaimana? Saya negosiasi kembali dengan ibu Askes. Ibu Askes memberikan waktu seminggu karena dia akan bernegosiasi dengan dengan pimpinan cabang. Kami pulang dengan sedikit lega. minimal pasien ini telah mendapat izin dari PT askes untuk dirujuk. Alhamdulilah
3.Pemda
Surat permohonan bantuan dana. Hal yang seharusnya dipikirkan juga oleh kalangan rumah sakit apabila merujuk pasien, tentang bagaimana biaya hidup keluarga pasien selama disana. Mereka toh keluarga tidak mampu.Lalu Kami lakukan lagi pendekatan ke Pemda. Menunggu untuk dapat bertemu Sekda dari pukul 10 sampai pukul 2 siang. Perut udah mulai lapar,tapi kami gak mungkin balik ke puskesmas lagi,karena jarak 35 kilo akan terasa sangat sia-sia jika kami membatalkannya. Akhirnya kami bertemu Sekda dan dengan segala penjelasan yang cukup meyakinkan,persetujuan pun didapat. Diluar ruangan Sekda ,kami bertemu dengan beberapa orang dan menanyakan tujuan saya. Lalu saya menemukan candaan yang saya pikir sangat tidak bertanggung jawab “mau ke Jakarta ya bu lusi dengan alasan bawa orang sakit “….Kami kaget,mungkin dia becanda tapi…yaach karena sebagian besar orang-orang mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain,sehingga tanpa sadar dia melontarkan kalimat yang mencermikan kepribadiannya…mudah-mudahan gak banyak orang seperti itu…
4. Menyediakan perawat pendamping
Hal yang sangat sederhana yang saya minta untuk dipikirkan juga oleh rekan sejawat apabila merujuk pasien ke jakarta. Sediakanlah perawat pendamping yang akan membantu menguruskan segala prosedur yang ada.
Perawat pendamping dari puskesmas disiapkan. Saya mengatakan bahwa dananya tidak cukup besar. Mereka tidak akan dapat SPPD sesuai hari dan jauhnya perjalanan. Mereka saya yakinkan hanya membantu agar pasien dapat sampai ke Jakarta dan membantu mengurus admin nya lalu begitu pasien siap akan operasi perawat harus segera pulang. Dengan berharap keikhlasan yang luar biasa dari mereka perawat puskesmas Diana dan Jumariah akhirnya kelimanya berangkat ke jakarta.
5. Di RSJHK
Cerita lengkapnya saya tidak tahu pasti karena saya gak ikut terlibat didalamnya. Tapi dari laporan perawat pendamping bahwa mereka diperlakukan dengan baik. Dokter di Poly sempet kaget pasien diberi perawat pendamping walaupun tidak dalam keadaan darurat. Pasien disuruh memilih untuk ditangani atau dioperasi sesuai dengan keinginan pasien itu sendiri,dan mereka memilih dokter Poppi,saya gak tahu nama lengkapnya. Rencana berikutnya adalah jadwal keteterisasi jantung dan jadwal operasi. Artinya pasien harus kembali dulu ke daerah,dan uang masih bersisa.
Menurut pasien,di RSJHK mereka dilayani dengan baik. Tidak dipungut biaya apapun,hanya uang untuk membeli pampers saja. Siapa bilang pasien pengguna kartu keluarga tidak mampu tidak dilayani dengan baik? Saya telah mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana pasien saya bercerita bahwa mereka telah dilayani dengan baik.
Dan pada saat phisiotherapi post operasi,pasien di berikan latihan setiap pagi,dan karena nyamannya pasien kecil itu tidak ingin pulang kerumah,begitu menurut cerita si bapak dengan rona bahagia…
6. Mengajari pasien
Setelah kembali ke daerah dan menunggu jadwal kateterisasi jantung,pasien di ajari untuk mengingat kembali hal-hal penting yang harus dilakukan karena mungkin keberangkatan berikutnya dia akan pergi sendiri. Dan Uang yang bersisa tersebut kami masukan ke Bank dan kami mengajari orang tua pasien bagaimana caranya menggunakan kartu ATM. Sebagian orang menganggap ada-ada saja yang saya lakukan ,tapi saya gak perduli,praktis ,tehnis dilapangan sayalah yang paham karena setiap kondisi menuntut hal yang berbeda.
Pasien tersebut telah sembuh dan telah dapat melakukan kegiatan sesuai dengan usianya. Dia sudah bisa berdiri dan berjalan. Satu tahun kemudian mereka berangkat sendiri untuk kontrol ke jakarta. Kali ini mereka tidak menggunakan pesawat tapi menggunakan bus dan menggunakan uang mereka sendiri karena memang sudah di tabung didalam tabungan nya untuk persiapan kontrol ulang.
Lengkap sudah perjuangan kami. Sebagian orang tidak percaya dengan apa yang telah kami lakukan. Dan itu sama sekali gak penting bagi saya yang penting adalah saya telah berhasil menyelamakan masa depan seorang anak manusia. tidak hanya hanya menandatangani surat rujukan,dan membiarkan keluarga itu menderita dalam masalahnya sendiri.
Alhamdulilah…alloh menunjukan jalan bagi saya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Dan saya merasa sebagai manusia yang sangat beruntung di beri kesempatan untuk berbuat,dengan ilmu dan jabatan saya,karena akhirnya amanah sebagai seorang dokter,amanah sebagai seorang pimpinan,amanah sebagai makhluk alloh telah bisa saya laksanakan dan ini menjadi kepuasan batin bagi saya sebagai rasa syukur bukan sesuatu untuk di sombongkan.
Semoga bermanfaat.
Saya punya 3 anak dengan kelainan jantung bawaan semuanya BGM dengan keterlambatan pertumbuhan. 2 anak udah diperiksa dokter jantung anak dimakassar hasilnya juga harus ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di jakarta. Yang satunya lagi sudah saya rujuk tapi banyak alasan ini dan itu jadi bingung juga.
manipi.wordpress.com
Komentar oleh muh iqbal — Oktober 16, 2008 @ 2:50 pm
saya terharu…. terharu dari pengalaman mereka yang pernah atau yang ada diujung pelayanan… di desa… dipelosok. Hanya Allah yang akan membalasnya dengan imbalan yang dijanjikanaNYA.
Cerita demikian ini, banyak bertebaran diantara kita yang pernah mengabdi dengan tulus… yang menyiapkan diri menolong sesama.
Seorang keluarga saya menceritakan betapa ia menitikkan air mata melihat seorang gadis kecil bermata sipit (keturunan CINA), duduk menanti pemberangkatannya ke desa yang amat terpencil (ukuran orang sana). Seorang gadis mungil (dokter baru) yang bertugas di pedalaman Irian Jaya belum lama ini.
Keluargaku itu berdo’a di depan kami di Makassar, jauh dari pengetahuan GADIS kecil itu… Gadis kecil bukanlah keluarga kami… Pasti tak seorangpun tahu kini, apa yang terjadi dan dialaminya.
Gadis kecil memasuki daerah paling terpencil, yang sulit dijangkau.
Semoga ia berhasil dalam hidupnya. Tentu orang tuanya tak tahu cerita ini, begitu keluargaku menuturkan.
Salam buat anda semua yang ada di pelosok tanah air.
Hanya mereka yang pernah mengalami hal serupa ini yang mampu merasakan CERITA-cerita kita.
Komentar oleh limpo50 — Oktober 18, 2008 @ 12:48 pm
Ass …
Wah ada tulisan baru lagi nih … saya terlambat untuk ngasih komentar nih
Saya sangat-sangat terharu membaca tulisan diatas, dalam benak saya “andai hal serupa terjadi pada berbagai kasus yang menimpa saudara kita di indonesia”.
Terima kasih ya atas usahanya, semoga masih banyak lagi orang yang didapat kita[bu lc] bantu.
Salam dari Palu
Komentar oleh chandra — Oktober 18, 2008 @ 2:22 pm
terima kasih candra dan Mr Limpo…Saya yakin saya gak sendiri,banyak juga cerita indah yang lain,dalam tolong menolong ini…
Ini hanya cerita yang mengutip salah satu judul tulisan pak Limpo “cerita usang yang sayang untuk di buang”
Sukses buat kita semua…
Komentar oleh che11 — Oktober 19, 2008 @ 8:44 pm
kalau membaca tulisan soal antar-mengantar pasien berobat lanjut, kisah serupa yang tak sama, dulu kala pernah juga menimpa seorang rekan dokter spesialis bedah masa di Maluku tahun 1969. menjadi polemik di koran antara beliau dan Kepala Dinas Propinsi akhirnya berakhir dengan pergi. Maninggalkan Maluku yang saat itu baru ia seorang saja dokter sp.bedah. Karena saya berada dekat diantara keduanya dan tak dapat berbuat apa, rasanya itu adalah masalah yang baik ditulis khusus demi mereka yang dapat dihindarkan sebagai korban konflik dua gajah besar, bagaimanapun cara mengilustrasikannya.
Salam.
Komentar oleh limpo50 — Oktober 20, 2008 @ 8:08 am
Salut atas pengabdian, pengorbanan dan keikhlasan dr. Lusi dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara, abdi masyarakat. Semoga dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi yang lain. Semua pekerjaan yang dilaksanakan dan dilandasi niat baik pasti mendapat ridho Tuhan yang maha kuasa. amin.
Komentar oleh PrAmaNa — Oktober 20, 2008 @ 9:27 am
Subhanallah, atas smua ketulusan & kelapangan hati seorang Dr.Lusi.
Berharap di Indonesia akan semakin banyak dokter yang seperti ini, selain punya skill juga punya simpati & empati trhdp pasiennya. Supaya tak banyak lagi terdengar perihal pasien yg hrs nyebrang ke singapore or malaysia krn memang penyakitnya butuh penanganan RS dgn peralatan lebih lengkap, namun ada juga krn mencari suasana/pelayanan yg lebih ramah ,dan kadang mereka bercerita..”dokter disana lebih ramah & care”. Kasian kan pasien kita, untuk mencari keramahan aja harus jauh2 ke luar negri..
Semoga Allah akan membalas dengan kebaikan yg berlipat ganda buat mbak Lusi.. Amin.
Regards,
Veli
Komentar oleh velina — Oktober 24, 2008 @ 11:23 am
saya salut dan bangga atas Dr. Lusi semoga kelak di negara kita muncul dan semakin banyak dokter-dokter Lusi yang laen…..
dokter yang tulus atas pengorbanannya tanpa mengharapkan balasan..
semoga Allah membalas pengorbanan dan semua ketulusan Dr. Lusi dengan kebaikan-kebaikan yang lebih….
Komentar oleh ria — November 4, 2009 @ 7:30 am
Terima Kasih sudah bersedia mampir…
Komentar oleh che11 — November 6, 2009 @ 1:30 pm
Saya sangat terharu membaca cerita dr.Lucy….andaikan di tempat saya ada dokter spt ibu…saya sgt bersyukur sekali. Saya jg mempunyai putra (usia 3 th, TB.100 cm, 11 kg ) sejak usia 3 bulan menderita jantung bocor.karena keterbatasan biaya sampai sekrg putra saya belum menjalani operasi. Saya bekerja di koperasi dan suami saya guru honorer di yayasan swasta.Saya mmg peserta jamsostek tpi pihak jamsostek tidak bisa menanggung biaya operasi. Mohon saran dari dr.Lucy…
Komentar oleh Bu Arif — November 22, 2009 @ 12:24 pm
Ibu Arif….Ibu bisa mendapatkan layanan tersebut di Rumah sakit jantung harapan kita. Saya memang tidak terlalu yakin, apakah RSJHK bekerja sama dengan jamsostek apa tidak, namun ibu jika ibu memegang surat rujukan dari dokter yang memeriksa anak ibu, coba saja ibu bawa anak ibu ke sana. Mudah mudahan ada kerjasama. Jika ada, mungkin ibu akan mendapat keringanan disana.
Ibu RSJHK, akan melayani ibu dengan baik dan memberikan penjelasan kepada ibu tentang apa yang seharusnya ibu lakukan. saya tahu dari staf saya yang berangkat waktu itu. Mereka diperlakukan dengan baik dan dibimbing.
Ibu arif, semoga Tuhan memudahkan jalan ibu untuk kesembuhan anak ibu, satu pesan saya, ibu harus usaha terus, jangan putus asa ya bu…
Komentar oleh che11 — November 23, 2009 @ 7:57 pm
atas saran dan doa dr.Lucy kami ucapkan terima kasih….smoga menjadi penyemangat bgi kami untuk selalu berihtiar dan diberi kesabaran dlm merawat si buah hati.Saya ingin tanya ya dok…knapa anak yg mengalami kelainan jantung bawaan selalu bermasalah dgn nafsu makan?
Komentar oleh Bu Arif — Desember 7, 2009 @ 10:43 am
Ibu….ibu benar, biasanya anak dengan kelainan jantung bermasalah dengan makannya. Hal tersebut terjadi karena sistem peredaran darah terganggu, juga sistem metabolismenya. Jadi makanan yang dicerna tidak tercerna dengan baik.
Ibu, sudah ibu bawa anak ibu kesana bu…..Ayolah bu, jangan ditunda……ini akan lebih baik baginya……..
Komentar oleh che11 — Desember 9, 2009 @ 10:55 am
Dear dokter Lusi,
saya menemukan tulisan ibu ketika saya browsing untuk mencari tahu seluk beluk , istilah kedokteran dan hal hal lain yang berkenaan dengan kelainan jantung. anak saya seorang putri berumur 3 tahun BB 15 kg, TB 100 juga mengalami kelainan pada jantungnya. sejak berumur 3 bulan secara tidak sengaja saya kontrol kesehatan anak dan di diagnosa mengalami kelainan pada jantungnya.
jujur saya sangat sedih dan tidak menerima keadaan ini tapi saya akhirnya memutuskan untuk memberikan asupan gizi secara maksimal, bahkan untuk makanan saya pun sangat ketat dan selektif. alhamdulillah anak saya jarang sekali sakit bahkan untuk pilek/ flu sekalipun.
Saya hingga detik ini masih berharap mukjizat agar anak saya bisa sembuh secara alami, namun demikian saya mulai menabung untuk biaya operasinya. dan semoga tahun depan dapat melakukan operasi di Harapan Kita.
persiapan kondisi kesehatan sudah mulai saya lakukan dengan mengajak si kecil bermain sepeda, berenang maupun jalan kaki, dan ini coba saya lakukan dengan sangat hati hati agar si kecil tidak kelelahan. dari sisi medis saya baru memulai konsul dengan dokter jantung anak.
Sungguh tulisan ibu kembali membakar semangat saya sebagai ayah untuk selalu memberikan yang terbaik dan mengupayakan kesejahteraan anaknya.Jika seorang dokter Lusi yang bukan siapa siapa bagi si pasien dalam pengalaman di atas mau berupaya demikian kerasnya apa lagi saya sebagai seorang ayah dari anak penderita kelainan jantung?
terima kasih untuk berbagi pengalamannya. semoga dokter Lusi juga di mudahkan dalam segala hal. Dan bagi orang tua yang juga memiliki kondisi yang sama mari selalu berusaha dan jangan pernah berhenti……
Komentar oleh harry — Juli 22, 2010 @ 1:40 pm
Dear Harry…
Saya senang, jika ternyata tulisan saya, menjadi berguna bagi bapak….
Semoga sekarang bapak telah melakukan upaya untuk kesembuhan anak terkasih…
Doa saya mengiringi….
Tuhan Melihat usaha kita, sehingga jika kita bersabar dan berusaha, Tuhan akan memudahkan semuanya….semudah membalikkan telapak tangan
Salam Sahabat
Komentar oleh che11 — Oktober 4, 2010 @ 8:51 pm